<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pupuk Hayati</title>
	<atom:link href="http://www.pupukhayati.co.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pupukhayati.co.id</link>
	<description>Pupuk Hayati</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 15:30:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Informasi Penting</title>
		<link>http://www.pupukhayati.co.id/informasi-penting.html</link>
		<comments>http://www.pupukhayati.co.id/informasi-penting.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Nov 2010 09:46:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtera</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pupukhayati.co.id/?p=1282</guid>
		<description><![CDATA[MENGENAL PESTISIDA Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973, yang disebut dengan pestisida adalah semua bahan kimia, bahan-bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit serta jasad penganggu yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian. Dalam arti luas, istilah pestisida mencakup semua bahan kimia yang digunakan untuk pertanian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>MENGENAL PESTISIDA</strong></span></h1>
<p style="text-align: center;">
<p><span style="color: #000000;">Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973, yang disebut dengan pestisida adalah semua bahan kimia, bahan-bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit serta jasad penganggu yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian. Dalam arti luas, istilah pestisida mencakup semua bahan kimia yang digunakan untuk pertanian (kecuali pupuk) dan hasil ternak (Ditlintan 1985).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan OPT sasaran, cara bekerjanya dan kandungan bahan aktif atau senyawa kimianya. </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Berdasarkan OPT sasaran yang dituju, pestisida dikelompokkan antara lain adalah sebagai berikut :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Insektisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh serangga.</span><span style="color: #000000;"> </span></li>
<li><span style="color: #000000;"> </span><span style="color: #000000;">Fungisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh cendawan atau jamur</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Akarisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh tungau</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Rodentisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh tikus</span><span style="color: #000000;"> </span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;">Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dikelompokkan antara lain adalah sebagai berikut</span> :</p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Repelen atau zat penolak, yang digunakan untuk mengusir serangga</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Racun kontak, yang diserap melalui kutikula</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Racun perut, yang bekerja di dalam perut OPT sasaran, sehingga racun ini harus dimakan terlebih dahulu oleh OPT sasaran tersebut</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Racun translaminer, yang mampu menembus yang berada di dalam jaringan tanaman</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Racun sistemik, yang masuk ke dalam jaringan tanaman dan ditranslokasikan ke seluruh bagain tanaman, dengan demikian racun ini tepat untuk mengendalikan hama-hama pengisap dan penyakit yang disebabkan oleh cendawan</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Antifidan, yang menghambat kemampuan makan OPT sasaran</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Penghambat pembentukan kitin, yang menghambat pembentukan kitin, sehingga proses pergantian kulit serangga terhambat</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;">Berdasarkan bahan aktif atau senyawa kimia yng dikandungnya, pestisida di kelompokkan antara lain menjadi :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Pestisida golongan klor organik</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Pestisida golongan fosfat organik</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Pestisida golongan karbamat</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Pestisida golongan piretroid sintetik</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Pestisida golongan benzoil urea</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Pestisida golongan mikroba</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;"><strong>SELEKTIVITAS PESTISIDA</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam pengendalian OPT secara kimiawi, sebaiknya dipilih pestisida yang memiliki sifat selektif. Selektivitas pestisida adalah pengaruh maksimum suatu jenis pestisida terhadap organisme sasaran, dengan pengaruh minimum terhadap manusia, hewan, serangga berguna dan kualitas lingkungan hidup.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Selektivitas pestisida dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">selektivitas fisiologi dan</span></li>
<li><span style="color: #000000;">selektivitas ekologi, yaitu selektivitas penggunaan pestisida yang berdasarkan pada pengetahuan ekologi OPT. Contoh selektivitas ekologi: aplikasi pestisida berdasarkan Ambang Ekonomi (Ambang Pengendalian) hama, penggunaan pestisida sistemik, perlakuan benih dan sebagainya. Dengan demikian, pestisida yang berspektrum lebar dapat digunakan secara selektif (selektivitas ekologi). Namun demikian, dalam kaitan dengan Konsepsi PHT, yang diinginkan adalah penggabungan keduanya, yaitu penggunaan pestisida selektif (fisiologi) dan secara ekologi juga selektif.</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;"><strong>PENGGUNAAN PESTISIDA BERDASARKAN KONSEPSI PHT</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Berdasarkan konsepsi PHT, pestisida hanya digunakan kalau memang benar-benar diperlukan (sesuai dengan hasil pengamatan egroekosistem). Selain itu, penggunaannya harus berhati-hati dan sekecil mungkin gangguannya terhadap lingkungan. Secara umum, penggunaan pestisida harus mengikuti 5 kaidah, yaitu :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;"><em>Tepat sasaran </em></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><em>Tepat jenis </em></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><em>Tepat waktu </em></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><em>Tepat dosis/konsentrasi </em></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><em>Tepat cara penggunaan </em></span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Tepat Sasaran </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tepat sasaran artinya OPT sasaran harus diketahui jenis (species) nya secara cepat, dengan demikian dapat ditentukan jenis pestisida yang tepat yang perlu digunakan. Contoh: apabila OPT yang menyerang adalah serangga, maka dipilih insektisida, apabila yang menyerang adalah tungau, maka dipilih akarisida.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Tepat Jenis </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setelah diketahui OPT sasaran yang akan dikendalikan dan jenis pestisida yang sesuai, maka perlu dilakukan pemilihan jenis pestisida yang tepat. Contoh : Untuk mengendalikan ulat grayak (<em>Spodoptera litura</em>), digunakan insektisida Lufenuron, Sihalotrin, dsb.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Tepat Waktu </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Penggunaan pestisida berdasarkan konsepsi PHT harus dilakukan berdasarkan hasil pemantauan/pengamatan rutin, yaitu jika populasi hama atau kerusakan yang ditimbulkannya telah mencapai ambang ekonomi (Ambang Pengendalian). Hal ini disebabkan karena keberadaan hama atau penyakit pada pertanaman belum tentu secara ekonomis akan menimbulkan kerugian. Penyemprotan pestisida tidak dilakukan pada pagi hari tetapi sebaiknya dilakukan pada sore hari, karena pada umumnya OPT (khususnya serangga hama) pada tanaman cabai aktif pada sore/malam hari.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Tepat Dosis/Konsentrasi </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dosis pestisida adalah banyaknya pestisida atau larutan semprot yang digunakan dalam setiap satuan luas, sedangkan konsentrasi pestisida adalah takaran pestisida yang harus dilarutkan dalam setiap liter air (bahan pelarut). Daya bunuh pestisida terhadap OPT ditentukan oleh dosis atau konsentrasi pestisida yang digunakan. Dosis atau konsentrasi yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada yang dianjurkan akan memacu timbulnya OPT yang resisten/kebal terhadap pestisida yang digunakan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Tepat Cara Penggunaan </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Keberhasilan pengendalian OPT ditentukan pula oleh cara penggunaan atau penyemprotan pestisida. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan penyemprotan pestisida adalah sebagai berikut :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1.Peralatan semprot</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Yang dimaksud dengan peralatan semprot adalah : spuyer, alat semport, dan alat pelindung keamanan penyemprotan. Spuyer yang baik adalah ukuran butiran semport berdiameter antara 100-150 mikron, sedangkan alat semprot minimal memiliki tekanan sebesar 3 atmosfir, dan tidak bocor.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">2.Keadaan cuaca</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Yang dimaksud dengan keadaan cuaca adalah intensitas sinar matahari, kecepatan angin dan kelembaban udara. Penyemprotan sebaiknya dilakukan jika keadaan cuaca cerah, kelembaban udara di bawah 70% dengan kecepatan angin sekitar 4-6 km/jam.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">3.Cara penyemprotan</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Cara penyemprotan yang baik dilakukan dengan cara tidak melawan arah angin, kecepatan jalan penyemprotan sekitar 4 km/jam dan jarak spuyer dengan bidang semprot atau tanaman sekitar 30 cm.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>PENGENDALIAN OPT PADA TANAMAN CABAI MENGGUNAKAN PESTISIDA SELEKTIF</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pada umumnya OPT yang menyerang tanaman cabai adalah dari golongan serangga, tungau dan cendawan. Dengan demikian, pestisida yang digunakan adalah insektisida, akarisida dan fungisida. Insektisida dan akarisida selektif yang digunakan hendaknya memiliki sifat selektivitas fisiologi. Sampai saat ini belum banyak diketahui fungisida yang memiliki sifat selektivitas fisiologi. Oleh karena itu penggunaannya dapat dilakukan dengan cara yang bersifat selektivitas ekologi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>HAMA HAMA UTAMA PADA TANAMAN CABAI</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>1. Kutu daun persik (<em>Myzus persicae </em>) </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kutudaun persik (Gambar 1) menyebabkan kerugian secara langsung, yaitu mengisap cairan tanaman. Akibatnya daun yang terserang keriput, berwarna kekuningan, keriting dan pertumbuhan tanaman terhambat. Serangan berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi layu, selain itu kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara tidak langsung, karena peranannya sebagai vektor virus. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan pestisida selektif, yaitu apabila populasi kutu daun persik telah mencapai  7 ekor/10 daun. Insektisida yang dianjurkan antara lain dari golongan I.G.R., yaitu Fipronil, Diafentiuron, dan Profenofos. Insektisida tersebut digunakan secara bergantian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>2. Thrips (<em>Thrips parvispinus</em>) </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Daun yang terserang thrips memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan serangga tersebut, setelah beberapa waktu noda keperakan tersebut berubah menjadi coklat tembaga, daun-daun mengeriting ke atas.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pestisida selektif digunakan apabila kerusakan tanaman cabai telah mencapai  15%. Insektisida yang dianjurkan antara lain dari golongan I.G.R., yaitu Fipronil, Diafentiuron, serta dari golongan mikroba, yiatu Spinosat, Abamektin, insektisida tersebut digunakan secara bergantian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>3. Ulat grayak (<em>Spodoptera litura</em>) </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ulat grayak merusak daun dan buah cabai. Daun yang terserang oleh ulat grayak (instar I dan II) memperlihatkan gejala bercak-bercak putih yang menerawang, karena epidermis bagian atas ditinggalkan. Serangan oleh ulat grayak instar lanjut (III, dst) menyebabkan daun-daun berlubang dan pada akhirnya tanaman gundul. Pestisida selektif digunakan apabila kerusakan tanaman cabai telah mencapai  12.5%. Insektisida yang dianjurkan antara lain dari golongan I.G.R., yaitu Flufenoksuron, Lufenuron dan Diafentiuron  serta dari golongan mikroba, yaitu SLNPV (<em>Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus</em>), insektisida tersebut digunakan secara bergantian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>4. Tungau teh kuning (<em>Polyphagotarsonemus latus </em>) </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tungau teh kuning menyerang daun-daun muda. Permukaan bawah daun yang terserang menjadi coklat berkilau, daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pestisida selektif digunakan apabila kerusakan tanaman cabai telah mencapai 15%. Akarisida yang dianjurkan antara lain adalah Diafentiuron, Profenofos, Etion, Oksitiokuinoks dan Profenofos. Insektisida tersebut digunakan secara bergantian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN CABAI</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>1. Penyakit busuk daun </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Penyebab penyakit ini adalah cendawan <em>Phytophthora capsici</em>. Penyakit ini disebut pula lodoh, hawar daun, atau lompong (Suhendro <em>dkk. </em>1998). Penyakit ini dapat menyerang seluruh bagian tanaman, dari batang, daun hingga buah cabai. Gejala serangan berupa bercak tidak beraturan dan kebasah-basahan, serangan yang berat menyebabkan seluruh tanaman menjadi busuk.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Untuk pengendaliannya digunakan fungisida sistemik Metalaksil + Mancozeb dengan konsentrasi 3 g/l air, bergantian dengan fungisida kontak seperti Klorotalonil. Kedua fungisida tersebut digunakan secara bergantian. Fungisida sistemik digunakan maksimal empat kali per musim.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>2. Penyakit bercak daun </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Penyebab penyakit ini adalah cendawan <em>Cercospora capsici</em>. Penyakit ini disebut pula penyakit mata katak atau totol. Pada daun terdapat bercak-bercak kecil berbentuk bulat. Bercak ini dapat meluas hingga mencapai garis tengah lebih dari 0,5 cm. Pusat bercak berwarna pucat sampai putih, dengan tepi berwarna lebih tua. Pada serangan berat, daun-daun menjadi gugur. Selain menyerang daun, bercak juga sering ditemukan pada batang, juga tangkai buah. Serangan pada tangkai buah dapat meluas ke bagian buah dan menyebabkan gugur buah. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan fungisida Difenoconazole dengan konsentrasi 0,5 ml/l. Interval penyemprotan 7 hari.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>3. Penyakit busuk buah antraknose </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Penyebab penyakit ini adalah cendawan <em>Colletotrichum capsici </em>atau <em>Colletotrichum gloeoporioides</em>. Gejala awal berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan buah, kemudian menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spora. Serangan yang berat menyebabkan seluruh buah keriput dan mengering. Warna kulit buah seperti jerami padi. Cuaca panas dan basah mempercepat perkembangannya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan fungisida Klorotalonil atau Profineb. Kedua fungisida tersebut digunakan secara bergantian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Semoga bermanfaat ! Salam Sejahtera !<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pupukhayati.co.id/informasi-penting.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

